Home

Selasa, 01 November 2011

Landasan Pendidikan

Judul Makalah : Pendidikan Sebagai Ilmu Dan Seni

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan dapat dipelajari, studi ilmiah tentang pendidikan telah menghasilkan ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan berfungsi sebagai landasan dan petunjuk tentang cara-cara melaksanakan pendidikan. Praktek pendidikan menuntut diaplikasikannya ilmu pendidikan, tetapi di samping itu praktek pendidikan juga sekaligus adalah seni.

1.2              Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
                              1.            Bagaimana konsep mengenai studi pendidikan ?
                              2.            Bagaimana konsep mengenai ilmu pendidikan ?
                              3.            Apa yang dimaksud dengan praktek pendidikan ?
                              4.            Bagaimana praktek pendidikan sebagai paduan ilmu dan seni ?

1.3                          Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Landasan Pendidikan. Selain itu juga bertujuan agar dapat memahami secara mendalam mengenai :
                              1.            Konsep studi pendidikan.
                              2.            Konsep ilmu pendidikan.
                              3.            Praktek pendidikan.
                              4.            Praktek pendidikan sebagai paduan ilmu dan seni.

1.4         Metode Penulisan
Dalam makalah ini penyusun menggunakan metode kepustakaan yaitu membaca hal – hal yang berkaitan dengan tema dari beberapa sumber baik buku maupun internet.
BAB II
PEMBAHASAN

A.   Konsep Studi Pendidikan
Studi pendidikan adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan atau menghasilkan sistem konsep pendidikan. Studi pendidikan dapat dilakukan melalui kegiatan membaca buku tentang pendidikan, diskusi tentang pendidikan, penelitian ilmiah tentang pendidikan, dan berfilsafat tentang pendidikan.
Adapun metode atau cara kerja dalam studi pendidikan yaitu dapat dilakukan melalui metode atau cara kerja tertentu, yaitu metode kerja awam, metode ilmiah, dan metode filsafiah.
Studi pendidikan melalui metode atau cara kerja awam yaitu upaya memahami pendidikan dengan cara berfikir commonsense dan pengamatan atau observasi sepintas yang kurang sistematis dan teliti. Studi pendidikan seperti ini biasanya dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, dan menghasilkan konsep – konsep pendidikan yang kurang sistematis.
Studi pendidikan melalui metode filsafiah (studi filsafiah pendidikan) adalah upaya memahami pendidikan melalui berfikir reflektif sistematis, kritis radikal, dan sinoptik untuk menghasilkan sistem gagasan tentang pendidikan yang komprehensif dan preskriptif. Mengingat cara berfikir filsafiah belum dikuasai banyak orang, maka studi filsafiah pendidikan umumnya dilakukan oleh para filsuf. Studi demikian telah dilakukan sejak lama, dan telah menghasilkan apa yang dikenal sebagai filsafat pendidikan.
Studi pendidikan melalui metode ilmiah (studi ilmiah pendidikan) adalah upaya memahami pendidikan dengan menggunakan prosedur penelitian yang cermat dan terencana, atau melalui berfikir kritis dengan menggunakan logika tertentu dan pengamatan empiris yang teliti, sebagaimana dilakukan para ilmuwan. Namun demikian, pelaksanaan studi seperti ini bukan semata – mata monopoli para ilmuwan. Studi ilmiah pendidikan dapat dilakukan oleh siapapun dengan syarat yang bersangkutan telah menguasai metode penelitian ilmiah. Selain dilakukan oleh ilmuwan pendidikan, studi ilmiah pendidikan dapat pula dilakukan oleh para mahasiswa pada program studi kependidikan yang sedang menyusun skripsi , para guru, para dosen, dsb. Studi ilmiah pendidikan telah dilakukan oleh para ilmuwan atau para peneliti pendidikan sejak lama, dan telah menghasilkan sistem konsep pendidikan yang bersifat deskriptif maupun preskriptif/normatif yang disebut ilmu pendidikan.

B.  Konsep Ilmu Pendidikan
Istilah ilmu berasal dari kata alama (bahasa arab) yang berarti pengetahuan. Dalam bahasa latin dikenal pula kata srice (sebagai asal kata science) juga berarti pengetahuan. Ada berbagai jenis pengetahuan, jenis pengetahuan diklasifikasikan menjadi : revealed knowledge, intuitif knowledge, rational knowledge, empirical knowledge, dan authoritative knowledge. Ada juga yang mengelompokan jenis pengetahuan menjadi : commonsense knowledge, scientifik knowledge, philosophical knowledge, dan religious knowledge (G. F. Kneller, 1971). Disamping itu, pengetahuan juga diklasifikasikan menjadi : commonsense knowledge, scientifik knowledge, philosophical knowledge, dan religious knowledge.
Apabila kita menggunakan istilah ilmu secara etimologis dan secara generik (sebagaimana dipahami masyarakat secara umum dalam kehidupan sehari – hari), maka senua pengetahuan sebagaimana telah dikemukakan diatas tergolong ilmu. Namun demikian, dalam konteks studi akademik sejak zaman modern sebagaimana telah dirintis oleh Francis Bacon (1560-1626), Galileo Galilei (1564 – 1642), Newton (1642 – 1727), dll. Istilah ilmu atau science telah mengalami perubahan arti. Ilmu mempunyai arti sfesifik, yaitu hanya berkenaan dengan pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) saja. Berkenaan dengan ini Titus dkk. (1959) mengemukakan ada tiga kemungkinan penggunaan istilah ilmu. Pertama, digunakan untuk menunjuk bodies of knowledge, misal : fisika, kimia, psikologi, dll. Kedua, digunakan untuk menunjuk a body of systematic knowledge, yaitu konsep – konsep, hipotesis – hipotesis, hukum – hukum, teori – teori, dsb yang tersusun secara sistematis yang telah dibangun melalui kerja para ilmuwan selama bertahun – tahun. Ketiga, digunakan untuk menunjuk cara kerja tertentu yaitu scientific knowledge atau metode ilmiah. Dengan demikian dewasa ini, secara operasional dan substansial istilah ilmu mengandung arti cara kerja ilmiah dan hasil kerja ilmiah. Ilmu adalah pengetahuan ilmiah yang dihasilkan melalui metode ilmiah.  
Ilmu pendidikan. Berdasarkan definisi ilmu sebagaimana telah dikemukakan diatas, kita dapat mendefinisikan ilmu pendidikan, sebagai sistem pengetahuan tentang fenomena pendidikan yang dihasilkan melalui penelitian dengan menggunakan metode ilmiah.
Karakteristik ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan antara lain memiliki karakteristik sebagai berikut :
1)      Objek studi
Objek studi ilmu meliputi berbagai hal sebatas yang dapat dialami manusia. Setiap ilmu memiliki objek material dan objek formal tertentu. Beberapa disiplin ilmu mungkin memiliki objek material yang sama. Tetapi setiap disiplin ilmu mempunyai objek formal yang berbeda, objek studi setiap disiplin ilmu bersifat sfesifik. Adapun objek material ilmu pendidikan adalah manusia, sedangkan objek formalnya adalah fenomena pendidikan, yaitu fenomena lain yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan.
2)      Metode
Ilmu menggunakan metode ilmiah, demikian pula ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan menggunakan metode kualitatif dan metode kuantitatif. Penggunaan metode tersebut tergantung kepada sifat masalah atau objek penelitiannya.
3)      Isi
Isi ilmu juga ilmu pendidikan dapat berupa konsep, aksioma, postulat, prinsip, hukum teori, dan model yang disusun secara sistematis. Umumnya isi ilmu tersebut bersifat deskriptif dan objektif. Namun demikian, cabang – cabang ilmu pendidikan selain ada yang bersifat deskriptif dan objektif, juga ada yang memiliki karakteristik preskriptif/normatif.  
4)      Fungsi
Ilmu adalah menjelaskan, memprediksikan, dan mengontrol.
5)      Ilmu pendidikan menggunakan ilmu – ilmu lain dalam mempelajari pendidikan. Sekalipun demikian, menurut M.J. Langeveld (1952), sebagai ilmu yang bersifat otonom ilmu pendidikan berperan sebagai “tuan rumah”, sedangkan ilmu – ilmu lain sebagai tamunya.

Sistematika ilmu pendidikan. Mengacu kepada sistematika pedagogik dari M. J. Langeveld, Madjid Noor dan J.M. Daniel (1987) mengklasifikasikan ilmu pendidikan menjadi sebagai berikut :
a.    Ilmu Pendidikan Teoritis :
1)   Ilmu Pendidikan Sistematis
2)   Ilmu Pendidikan Historis :
a.       Sejarah Pendidikan :
1)      Sejarah Teori Pendidikan
2)       Sejarah Praktek Pendidikan
b.      Ilmu Pendidikan Komparatif
  b.  Ilmu Pendidikan Praktis :
        1.          Pendidikan Keluarga
        2.          Pendidikan Sekolah :
a.       Administrasi Sekolah
b.      Didaktik / Metodik
c.       Kurikulum
  1. Pendidikan Masyarakat

Sedangkankan Redja Mudyaharjo (2001) mengklasifikasikan ilmu pendidikan menjadi sebagai berikut :
a.       Ilmu Pendidikan Makro :
1)        Ilmu Pendidikan Administratif
2)        Ilmu Pendidikan Komparatif
3)        Ilmu Pendidikan Historis
4)        Ilmu Pendidikan Kependudukan
b.      Ilmu Pendidikan Makro :
1)        Ilmu Mendidik Umum yang meliputi :
a.       Pedagogis Teoritis
b.      Ilmu Pendidikan Psikologis
c.       Ilmu pendidikan Sosiologis
d.      Ilmu Pendidikan Antropologis
e.       Ilmu Pendidikan Ekonomik
c.       Ilmu Mendidik Khusus :
1)   Ilmu Persekolahan :
a.       Ilmu Administrasi Sekolah
b.      Ilmu Administrasi Kelas
c.       Ilmu Kegiatan Pendidikan Sekolah
§  Ilmu Bimbingan
§  Ilmu Pengajaran (Didaktik/Metodik)
§  Ilmu Kepelatihan
2)    Ilmu Pendidikan Luar sekolah :
a.       Pedagogik Keluarga
b.      Pedagogik Taman Kanak – kanak
c.       Ilmu Pendidikan Masyarakat (Andragogi)
3)    Ilmu Pendidikan Luar Biasa / Orthopedagogik :
a.       Orthopedagogik fisik
b.      Orthopedagogik Mental
 
C.      Praktek Pendidikan
Praktek pendidikan adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Praktek pendidikan dapat terselenggara secara informal, maupun diselenggarakan secara formal dan non formal. Contoh praktek pendidikan : seorang bapak sedang memberikan wejangan kepada anaknya agar jangan lupa mendirikan sholat, Ibu guru sedang menjelaskan konsep ekologi kepada para siswanya di kelas, Seorang tutor sedang membimbing para peserta didik kejar paket B untuk dapat menjawab latihan soal matematika, dsb.
Apabila kita mempelajari gejala pendidikan dalam skala mikro, bahwa praktek pendidikan (praktek mendidik) pada dasarnya berlangsung dalam kegiatan  / interaksi sosial antara pendidik dan peserta didik yang berlangsung dalam suatu lingkungan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Adapun untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, pendidik tentu saja memilih isi pendidikan dan menggunakan alat dan cara – cara / metode pendidikan tertentu. Dengan demikian kita dapat mengidentifikasi unsur – unsur yang terlibat dalam praktek pendidikan, yaitu : (1) tujuan pendidikan, (2) pendidik, (3) peserta didik, (4) isi / kurikulum pendidikan, (5) alat dan cara – cara / metode pendidikan, (6) lingkungan pendidikan.
“Objek” (sasaran) dalam praktek pendidikan yaitu peserta didik yang pada hakikatnya adalah manusia. Sebagaimana telah kita pahami melalui bab II, manusia mempunyai kedudukan dan nilai tersendiri apabila dibandingkan dengan benda – benda, tumbuhan, maupun hewan. Disamping itu, tujuan pendidikan juga sarat dengan nilai. Sebab itu, isi pendidikan dan alat atau cara – cara pendidikan pun hendaknya dipilih atas pertimbangan nilai – nilai kemanusiaan yang melekat pada peserta didik sebagai “objek” nya maupun yang melekat pada tujuan pendidikannya.
Hubungan antara studi pendidikan dan praktek pendidikan. Terdapat hubungan komplementer antara studi pendidikan dengan praktek pendidikan. Hal ini sebagaimana dikemukakan Redja Mudyahardjo (Odang Muchtar, 1991) bahwa:
1.      Studi pendidikan menjadi dasar sesuatu praktek pendidikan.
2.      Studi pendidikan menjadi alat untuk mencek keberhasilan praktek pendidikan.
3.      Praktek pendidikan menjadi sumber bagi pelaksanaan studi pendidikan.
4.      Praktek pendidikan menjadi sarana pengujian kebenaran prinsip pendidikan hasil studi pendidikan.

D.       Praktek Pendidikan Sebagai Paduan Ilmu dan Seni
Pendidikan sebagai ilmu. Sebagaimana dikemukakan terdahulu, fenomena pendidikan dapat dipelajari melalui metode ilmiah dan telah menghasilkan ilmu pendidikan. Adapun ilmu pendidikan tersebut dapat dijadikan dasar dan petunjuk dalam rangka praktek pendidikan. Dengan dasar ilmu pendidikan para pendidik dapat menyusun desain pembelajaran, yang memuat tujuan, isi, metode dan teknik mengajar, serta evaluasinya. Atas dasar desain pembelajaran itulah para guru melaksanakan praktek pendidikan. Dengan demikian dapatlah dipahami makna dari pernyataan pendidikan sebagai suatu ilmu, yaitu bahwa praktek pendidikan tersebut tiada lain adalah aplikasi dari ilmu pendidikan. Implikasinya bahwa untuk menjadi guru atau untuk menjadi pendidik, siapapun dapat mempelajarinya melalui ilmu pendidikan.   
Pendidikan sebagai seni . Bertentangan dengan pandangan diatas, ada kalangan yang memandang pendidikan sebagai seni. Gilbert Highet dalam bukunya “The Art Of Teaching” antara lain menyatakan : “Buku ini disebut “Seni Mengajar” karena saya yakin bahwa mengajar adalah sebuah seni, bukan sebuah ilmu. Menurut pandangan saya sangatlah berbahaya mempergunakan tujuan – tujuan dan metode – metode ilmu untuk urusan manusia sebagai individu, meskipun suatu prinsip statistik sering dapat dipergunakan untuk menerangkan tingkah laku manusia dalam kelompok yang besar dan suatu diagnosa ilmiah tentang struktur fisik manusia selalu sangat bermanfaat. Tetapi suatu hubungan “ilmiah” antar manusia adalah terobosan yang tidak memadai dan mungkin bersifat penyimpangan. Tentu merupakan keharusan bahwa guru harus teratur dalam merencanakan pekerjaannya dan cermat dalam berurusan dengan fakta – fakta. Tetapi hal itu tidak menyebabkan cara mengajarnya menjadi “ilmiah”. Mengajar melibatkan emosi, yang tidak dapat dinilai dan dikerjakan secara sistematis, dan nilai – nilai kemanusiaan, adalah nilai – nilai yang berada di luar jangkauan dari ilmu. Suatu pendidikan anak yang dilaksanakan secara ilmiah akan merupakan suatu monster yang memprihatinkan. Mengajar yang “ilmiah”, dengan bahan – bahan pelajaran yang ilmiah, akan menjadi tidak selaras sepanjang guru dan muridnya adalah manusia. Megajar tidaklah menimbulkan seperti reaksi kimia, mengajar lebih banyak mirip seperti melukis sebuah gambar atau menggelar sebuah musik, atau pada tingkat yang lebih rendah seperti menanam bunga di suatu taman atau menulis surat persahabatan. Anda harus melibatkan hati sanubari di dalamnya, anda harus menyadari bahwa mengajar tidak dapat seluruhnya dikerjakan berdasarkan formula – formula, atau anda akan merusak pekerjaan anda, dan murid – murid anda, serta diri anda sendiri” (Redja Mudyaharjo, 1995).
Pendidikan sebagai paduan ilmu dan seni. Pendidikan sebagai paduan ilmu dan seni dikemukakan oleh A.S. Neil. Menurutnya : “Mendidik dan mengajar bukanlah hanya suatu ilmu, tapi adalah seni. Mendidik yang diartikan sebagai seni ialah bagaimana kita dapat hidup dengan anak – anak dan dapat mengerti anak –anak sehingga seolah – olah kita menjadi seperti anak – anak. Gramophone dapat menyajikan pelajaran dengan baik, tetapi hal seperti itu tak dapat menemukan suatu hubungan yang vital dengan anak – anak. Sydney J. Haris mengemukakan : “bagaimana caranya beberapa guru dapat menguasai kelasnya dengan sangat mudah, dan tidak mempunyai kesulitan – kesulitan mengenai disiplin, sedangkan guru – guru lain harus berteriak, memohon, mengancam, dan masih tidak dapat apa – apa dengan murid – murid yang suka bikin ribut?’’. Haris menyatakan bahwa hal ini sangat banyak hubungannya dengan ke-“authentic” –an guru – sangat berhubungan dengan kewibawaan guru, bukan dengan “authority”, karena kewibawaan adalah lebih dari sekedar kedudukan resmi dan kemampuan untuk memberikan hadiah atau hukuman, tetapi kewibawaan itu muncul dari dalam kepribadian seseorang. Hanya seseorang yang berkepribadian yang menggetarkan orang lain. Pengetahuan tidaklah cukup. Teknik tidaklah cukup sekedar pengalaman juga tidak cukup. Ini adalah suatu misteri di dalam proses mengajar dan sama dengan misteri yang terdapat di dalam proses penyembuhan (kedokteran). Masing – masing adalah seni lebih dari sekedar pengetahuan atau keterampilan, dan seni itu melandasi kemampuan untuk “ berlagu dengan panjang gelombang orang lain” (Battle dan Shannon, 1982). Selain itu, paham konstruktivisme juga mengakui bahwa pendidikan bukan sekedar ilmu, melainkan juga seni. Dalam analisis implikasi konstruktivisme terhadap proses mengajar Paul Suparno (1997) mengemukakan bahwa : “tugas guru adalah membantu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang konkret maka strategi mengajar perlu juga disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi murid. Oleh karena itu, tidak ada suatu strategi mengajar yang satu – satunya yang dapat digunakan dimanapun dalam situasi apapun. Strategi yang disusun selalu hanya menjadi tawaran dan sasaran, bukan suatu menu yang sudah jadi. Setiap guru yang baik akan memperkembangkan sendiri. Mengajar adalah suatu seni yang menuntut bukan hanya penguasaan teknik, melainkan juga intuisi”.
Pandangan bahwa mengajar (mendidik) tidaklah seni semata, tetapi juga ilmu dikemukakan pula oleh Charles Silberman. Silberman antara lain menyatakan : “yakin mengajar – seperti praktek kedokteran – banyak merupakan suatu seni, yang memerlukan latihan bakat dan kreativitas. Tetapi seperti kedokteran, mengajar adalah juga – atau hendaknya – menjadi sebuah ilmu, karena berkenaan dengan suatu perbendaharaan teknik – teknik, prosedur – prosedur, dan kecakapan – kecakapan yang dapat dipelajari dan diterangakan secara sistematis, dan oleh karena itu ditransmisikan dan dikembangkan” (Redja Mudyaharjo, 1995).
Demikianlah, pandangan pendidikan sebagai seni tidak perlu dipertentangkan dengan pandangan pendidikan sebagai ilmu.
 
BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Pendidik memerlukan ilmu pendidikan dalam rangka memahami dan mempersiapkan suatu praktek pendidikan, namun dalam prakteknya pendidik harus kreatif, skenario atau persiapan mengajar hanya dijadikan rambu – rambu saja, pendidik perlu melakukan improvisasi. Dalam hal ini pendidik harus memperhatikan karakteristik peserta didik, dsb. Esensinya, bahwa praktek pendidikan itu hendaknya merupakan paduan ilmu dan seni.                    
B.    Saran
Dalam penusunan makalah ini, Kami selaku Penusun tentunya mengalami banyak kekeliruan dan kesalahan – kesalahan baik dala ejaan, pilihan kata, sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa yang kurang di pahami. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar – besarnya, di karenakan kami masih dalam tarap pembelajaran.
Seperti ada pepatah mengatakan : “ Tak ada gading yang tak retak “. Maka dari itu kami selaku penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar kami bisa lebih baik lagi dalam pembuatan makalah berikutnya sehingga makalah berikutnya lebih sempurna dari pada makalah sebelumnya.

 DAFTAR PUSTAKA

Hasbulloh, 2001. Dasar-dasar ilmu pendidikan, Rajawali pers : Jakarta.
Syarifudin, Tatang. 2007. Landasan Pendidikan. Percikan Ilmu : Bandung.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar