Home

Selasa, 01 November 2011

PBSI Di Kelas Rendah


PELAKSANAAN PENILAIAN HOLISTIK
            Berdasarkan pengamatan yang pernah dilakukan mengenai pelaksanaan penilaian holistik pelajaran membaca dan menulis oleh guru kelas awal, berikut ini disajikan secara ringkas tahapan peristiwanya. Contoh ini hanyalah sebagai salah satu model yang bila diterapkan harus disesuaikan selaras dengan situasi kelas dan kemampuan anda.
      1.            Pada awal pembelajaran, guru menginformasikan kepada siswa tujuan dan hasil pembelajaran yang diharapkan selama satu tahun, dan tata tertib kelas. Siswa diminta untuk menyampaikan pertanyaan dan komentarnya. Untuk kelas I khususnya, hal ini agak sulit dilakukan karena siswa masih asing dengan siswa lain atau gurunya. Tetapi sesudah beberapa hari, dan dengan dibantu oleh guru, murid secara bertahap dapat melakukannya. Selain itu guru memperkenalkan hal – hal yang ada di kelas dan hubungannya dengan siswa, termasuk map kumpulan tulisan serta dinding tempat pemanjangan hasil tulisan siswa.
      2.            Guru melakukan tes awal untuk mengidentifikasi rata – rata kemampuan anak dalam membaca dan menulis. Hasil tes itu dimanfaatkan guru untuk titik tolak pembelajaran dan pengelompokkan siswa. Biasanya pengelompokkan itu dilakukan guru dengan mencampurkan anak yang kurang, sedang, dan baik kemampuan menulisnya. Dengan tujuan, agar anak yang sudah mahir dapat membantu dan dijadikan model anak yang belum lancar baca - tulis.
      3.            Guru meminta anak untuk menetapkan tujuan dan hasil belajar baca – tulis yang ingin dicapainya. Bagi kelas I, hal itu dilakukan dengan wawancara beberapa anak secara individual ketika siswa lain sedang mengerjakan tugas. Wawancara berlangsung sekitar 4 menit untuk setiap anak. Kegiatan ini diselesaikan guru sekitar dua minggu. Bagi anak kelas I, yang sudah agak lancar baca – tulis, kegiatan ini dilakukan secara klasikal. Hasilnya diperiksa guru dan diberikan komentar. Guru mengembalikan kepada anak dan memberikan kesempatan untuk memperbaikinya bila dirasakan ada hal yang kurang. Sesudah itu, anak membawanya pulang untuk dibaca dan dikomentari orang tuanya. Apakah manfaat penetapan tujuan, hasil belajar, serta usaha yang akan ditempuh anak? Sangat penting! Bagi guru, ia akan tahu keinginan dan harapan anak, baik secara individual atau umum.
Bagi siswa sendiri, mereka akan belajar bertanggung jawab terhadap rencana dan keinginannya. Dengan cara ini maka anak – anak yang usaha, sikap, dan hasil belajarnya kurang baik, akan diingatkan guru dengan rencana anaknya, diharapkan membantunya mencapai rencana itu. Berikut ini adalah contoh tujuan dan keinginan belajar yang ditetapkan anak kelas I yang dituliskan gurunya.
Nama                 : Bakir
Tanggal             : 28 – 07 – 1977
Cawu I              :
                          Tujuan belajar
                          Baca – Tulis
-       Saya ingin bisa baca cerita, baca koran sendiri
-       Saya mau bisa nulis surat untuk kakek di kampung 

              
        4.          Disela – sela pembelajaran, guru melakukan pengamatan. Pengamatan ini dimaksudkan untuk menangkap hal – hal yang berkaitan dengan sikap, tanggapan, usaha, kesulitan, dan kemajuan belajar anak, baik secara individual atau keseluruhan. Hasilnya dapat dimanfaatkan guru untuk melakukan perbaikan pembelajaran atau membantu anak yang secara khusus membutuhkan bimbingan. Perhatikan contoh catatan observasi guru (catatan anekdot) mengenai perkembangan kemampuan baca tulis anak kelas I sebagai berikut :


Putri
Farid
5 – 8 – 1997
Sudah bisa menuliskan namanya dengan benar, membaca, dan mengejanya. Huruf – huruf yang sudah diajarkan dia ingat dengan baik dan dapat menuliskannya dengan benar.
5 – 8 – 1997
Dia berusaha menuliskan namanya dengan benar. Kalau dia lupa hurufnya, dia lihat daftar huruf pada dinding kelas. Dia dapat membacakan namanya meskipun perlu waktu agak lama.
    
      5.            Guru mengumumkan tiga buah bacaan wajib dan dua bacaan bebas (didpilih oleh siswa sendidri dengan bantuan gurunya) selama satu caturwulan, berikut tugas yang harus dilakukannya. Bacaan itu berupa buku atau kopi tulisan. Sebagian besar bacaan itu dituangkan kedalam suatu daftar berikut target waktu penyelesaiannya. Banyaknya bacaan dan tugas disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi anak. Tugas bacaan itu adalah sebagai berikut :
a.    Bagi kelas I : Guru menugaskan untuk meminta orang tuanya membacakan bacaan pertama dan kedua; bacaan ketiga dan seterusnya siswa diminta membaca sendiri dengan bantuan orang tuanya. Tegasnya tugas membaca ini di PR- kan sehingga tidak menyita waktu belajar sekolah. Setiap minggu, secara berkelompok siswa membacakan bacaan yang telah didengar atau dibaca di rumah kepada kawan – kawannya sekaligus menjelaskan sendiri. Mungkin anda bertanya – tanya, “bagaimana mungkin mereka bisa melakukan hal itu padahal mereka belum bisa membaca? Inilah uniknya! Dengan memorinya siswa mengingat – ingat bacaan yang telah didengar dan dibacanya itu. Mereka pun kadang – kadang menggunakan pengetahuan tentang uruf yang sudah dipahaminya. Jadi pada umumnya mereka berlaku seperti atau seolah – olah membaca. Dari bacaan itu, siswa diminta memberikan tanggapan atau simpulan atas tiga bacaannya secara tertulis. Sekali lagi, karena mereka belum dapat menulis maka tulisan itu hanya dipahami sendiri oleh mereka. Untuk itu, guru meminta orang tua masing – masing untuk menanyakan kepada anak dibawah tulisan si anak. Lalu, guru memeriksa tanggapan anak dan memberinya skor. Salah satu bacaan dan tanggapan anak ditanyakan guru dalam konferensi individual, dan menuliskan apa yang dimaksudkan anak dibawah tulisan si anak.
b.    Bagi anak kelas II : Guru meminta siswa untuk membaca tulisan itu dirumah dan membuat tiga tanggapan tertulis atas tiga bacaan itu. Tanggapan itu diperiksa guru dan diberikan catatan, baik pujian atau saran perbaikan. Hasil pemeriksaan ini digunakan untuk berkonferensi dengan setiap siswa. Setiap minggu secara berkelompok, setiap siswa diminta membacakan bacaan itu di depan teman – temannya. Ketika itu pula, guru melakukan konferensi secara bertahap dengan beberapa siswa. Kegiatan konferensi itu diisi dengan kegiatan murid membacakan bacaannya dan mendiskusikan hasil tanggapan tertulis yang diberikan oleh siswa tersebut. Guru memandu siswa untuk menemukan hal – hal baik dari tanggapannya, serta kekurangan dan cara memperbaikinya. Bagi kelas I, karena sudah relatif lancar baca – tulis, mereka tidak terlalu kesulitan untuk menuliskan tanggapan atas bacaannya. Pada salah satu konferensi membaca, guru juga melakukan wawancara berkenaan dengan minat, sikap, dan kegiatan membaca siswa. Panduan wawancara yang digunakan guru seperti berikut ini :

Nama                                 : .................................
Tgl                                     : .................................
Kelas                                  : .................................     
Wawancara Pembaca dan Penulis Pemula
A.      1.   Ceritakan, apa saja bacaan yang kamu baca!
2.   Apakah kamu membaca sendiri? Kalau tidak, siapa saja yang  membantumu membaca? 
3.   Apakah kamu suka membaca? Mengapa? Bagaimana caranya?
4.   Apakah kamu suka belajar membaca? Mengapa? Bagaimana caranya?
5.   Kesulitan apa yang kamu rasakan ketika membaca (belajar membaca)?
Apasaja yang kamu lakukan untuk mengatasi kesulitan membacamu?
Bantuan apa yang kamu harapkan dari Bapak / Ibu gurumu agar kamu cepat pandai membaca?
B.       1.   Apa saja yang suka kamu tulis di rumah? Mengapa?
2.   Apakah kamu menulis sendiri? kalau tidak, siapa saja yang membantumu?
3.   Apakah kamu suka belajar menulis? Mengapa?
4.   Kesulitan apa yang kamu hadapi ketika menulis (belajar menulis)? Lalu, apa yang kamu lakukan untuk mengatasi kesulitanmu? Bantuan apa yang kamu harapkan dari Bapak / Ibu gurumu agar kamu cepat pandai menulis?     

 
        6.         Setiap menyelesaikan satu unit pelajaran atau sebelum pindah ke materi baru, guru mengadakan tes membaca dan menulis yang disajikan secara lisan, tertulis, dan perbuatan. Tes itu dibuat oleh guru atau guru memodifikasi tes – tes yang telah tersedia sesuai kebutuhan. Tes itu diperiksa oleh guru atau bersama – sama siswa. Khusus untuk tes mengarang maka perskoran didasarkan atas kesan umum karangan anak dengan mencantumkan kelebihan dan kekurangannya. Inilah yang disebut perskoran holistik. Dengan cara ini anak tidak sekedar tahu tulisannya baik atau tidak, tetapi dia juga dapat melihat kelebihan dan kekurangannya.
Penilaian karangan dengan perskoran holistik dilakukan dengan tahap – tahap seperti berikut :
a.         Untuk menjaga keajegan penilaian, guru terlebih dahulu membuat rambu – rambu penilaian. Perhatikan contoh rambu – rambu perskoran karangan untuk kelas dua atau kelas yang lebih tinggi berikut ini!
Skor
Penjelasan
E
Karangan hanya berupa kata – kata atau kalimat yang tidak jelas ujung pangkalnya.
D
Karangan sangat umu, tidak terfokus. Kaitan satu kalimat dengan kalimat lain tidak jelas. 
C
Karangan jelas arahnya. Siswa tampaknya berusaha keras untuk menyampaikan idenya, tetapi dia tidak tahu bagaimana
B
Ide – ide karangan terorganisasi dengan relatif baik. Pada umumnya, ide antar kalimat satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Hanya saja detail dari setiap gagasan masih kurang.  
A
Karangan tersusun secara runtut, detail, gagasan lengkap, dan pesan yang ingin disampaikan jelas. Sangat sedikit kesalahan ejaan, fungtuasi, dan pilihan kata.

b.       Membaca secar utuh karangan siswa.
c.       Memfokuskan pada kelebihan atau kekuatan karangan siswa.
d.      Memeriksa secara bertahap, komponen karangan yang jadi fokus penskoran, misalnya, keterbatasan, tulisan, ejaan, dan fungtuasi dulu, atau struktur kalimat, dan sebagainya; serta kekurangan – kekurangannya. Mengapa kekurangan siswa harus ditunjukkan secara bertahap ? pertama, pengajaran unsur menulis juga dilakukan bertahap. Kedua kemampuan menulis siswa diperoleh secara berproses. Kalau kita menunjukkan semua kekurangan karangan siswa sekaligus, itu tidak adil dan membahayakan. Mengapa? Karena akan banyak sekali kekurangannya. Siswa bisa frustasi dan tidak tahu mana dulu yang harus diperbaiki.
e.       Mencantumkan skor karangan yang diperoleh, berikut komentar  terhadap kebaikannya dan catatan atas kekurangannya beserta saran – saran perbaikan yang harus dilakukan siswa.
Penilaian karangan itu dapat juga dilakukan oleh siswa sendiri dengan berbekal rambu – rambu penilaian yang telah disepakati. Dalam pada itu, ketika menilai karangan, guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaikinya dua atau tiga kali sampai mereka sendiri benar – benar merasa puas bahwa karangan yang dihasilkannya adalah karangan terbaik yang dapat dilakukannya. Bagaimanapun hampir tidak ada karangan yang baik, yang hanya diselesaikan sekali tulis. Apalagi mereka, para siswa kelas awal. Untuk itu, sebelum sampai pada penilaian final, pemeriksaan buram (draft) karangan pertama dan kedua dapat dilakukan guru bersama siswa untuk menemukan kelebihan dan kelemahan karangannya serta cara memperbaikinya. Guru juga menanyakan kepada siswa kesulitan – kesulitan menulis yang dialaminya dan memberikan jalan keluar. Hasil wawancara itu dicatat sebagi bahan untuk melihat perkembangan kemajuan setiap siswa dalam menulis. Mintalah siswa untuk membuat target waktu penyelesaian perbaikan karangannya sampai benar – benar final. Semua buram (draft) karangan dimasukkan ke dalam map kumpulan karya siswa. Contoh penilaian karangan tersebut tampaknya lebih sesuai untuk kelas II atau kelas lainnya yang sudah lancar baca tulis. Lalu, bagaimana dengan mengarang yang dilakukan oleh kelas I ? kepada mereka pun berikan tugas mengarang. Hanya saja, karangan yang diminta biasanya membuat gambar dan menuliskan cerita tentang gambar – gambar tersebut. Setelah selesai, periksa karangan itu melalui wawancara individual. Tanyakanlah maksud tulisannya itu apa. Dengan memorinya, biasanya siswa dapat mengingat apa yang ditulisnya. Nah, apa yang dikatakan siswa, tuliskan oleh guru maksud sebenarnya dibawah tulisan yang disusun oleh siswa. Setelah itu mintalah siswa untuk memperbaiki karangannya berdasarkan contoh tulisan yang guru berikan hanya saja  fokus penilaian lebih ditunjukkan kepada simbolisasi huruf, perangkaian huruf menjadi kata, spasi antar kata, cara menulis, adanya ide yang ingin disampaikan siswa, dan sebagainya.
      7.            Dalam hal ini, guna melatih siswa menggunakan kemampuan berbahasa untuk berbagai keperluan, sesekali siswa ditugasi guru untuk melakukan survei atau penelitian kecil – kecilan, baik secara individual ataupun kelompok, dan melaporkannya secara lisan dan tertulis. Penelitian yang dilakukan misalnya, mensurjenis permainan, atau jenis sayuran, ikan, daging, buah – buahan, yang disukai anggota keluarganya atau teman – teman sekelasnya.
      8.            Secara berkala, karangan atau tulisan siswa yang menurut siswa sendiri baik (pengambilan keputusannya dibantu oleh guru), dapat dipajang di dinding kelas.
      9.            Berdasarkan data hasil observasi dan wawancara yang dilakukannya, setiap bulan guru meringkas temuannya. Berdasarkan temuan itu pula, dia melakukan refleksi (perenungan) dan penilaian dari (self – evaluation) dalam mengajar. Perhatikan contoh panduan penilain diri guru sebagai berikut :

          

Penilaian Diri Guru
1.     Hal – hal yang sudah dapat saya lakukan dengan baik pada bulan ini
2.     Hal – hal yang masih ragu, belum mantap, dan belum dapat dikerjakan dengan baik.
3.     Saya harus mengatasi  masalah atau kesulitan yang saya hadapi dengan cara .
4.     Suasana pembelajaran, kesan dan tanggapan siswa atas pembelajaran baca tulis yang dilakukan.
5.     Tanggapan orang tua dalam pelibatan mereka terhadap tugas sekolah anaknya. Yang harus saya lakukan agar pembelajaran mendatang lebih baik
 
           Hasil evaluasi ini, seperti hasil pengamatan atau wawancara, disimpan dalam dokumen guru.

  10.            Menjelang akhir caturwulan, setiap siswa diminta untuk memilih hal – hal terbaik berkenaan dengan pekerjaan baca tulisnya yang terdapat dalam kumpulan karyanya dan menuliskan alasannya. Hasil pilihan inilah yang dimasukkan ke dalam fortofolio siswa. Berdasarkan pengamatan hasil karyanya, setiap siswa (untuk siswa kelas I dibantu guru) juga diminta untuk menilai dan menuliskan kemajuannya. Baik alasan pemilihan atapun hasil penilaian siswa, dimasukkan kedalam portofolionya. Perhatikan contoh alasan yang dikemukakan siswa kelas I mengenai pilihan karangan untuk portofolionya. Alasan yang dikemukakan oleh siswa kelas I biasanya masih bersifat personal. Misalnya, “saya memilih ini karena saya suka“. Tetapi, ketika ditanyakan kenapa dia meyukainya, biasanya dia diam, tidak tahu harus menjawab apa, atau dia mengulangi jawaban yang pertama tadi, “ya, karena saya suka”. Berikut ini adalah contoh alasan pemilihan tanggapan atas bacaan yang dituliskan oleh siswa kelas II. Perhatikan pula contoh hasil penilaian salah seorang siswa kelas Iiatas kemajuannya belajar menulis.
Sesuadah itu, dengan pengantar surat dari guru, portofolio tersebut dibawa murid kepada orang tuanya. Orang tua diminta mempelajari dan menuliskan hasil penilaian, komentar, dan saran – saran untuk kemajuan belajar anaknya. Biasanya mereka diberi waktu sekitar satu minggu.
Perhatikan contoh panduan penilaian orang tua berikut ini !
Nama Anak         
Penilaian Orang Tua Murid
      1.            Kemajuan baca tulis yang telah dicapai anak saya :
      2.            Minat anak saya tampaknya berkenaan dengan :
      3.            Kelebihan atau kekuatan anak saya terletak pada :
      4.            Hal – hal yang perlu diperbaiki anak saya berkenaan dengan baca tulis :

                                                                     .......................................
                                                                     Orang Tua / Wali Murid

             

            Penilaian atas setiap siswa ini juga diberikan dan dituliskan oleh guru pada secarik kertas. Hasil penilaian orang tua dan guru, kemudian dibaca dan disimpan anak di dalam portofolionya. Porfolio itu kemudian dikembalikan lagi ke kelas untuk dipergunakan selama siswa berada di kelas itu. Kegiatan seperti ini dilakukan setiap menjelang akhir caturwulan. Setelah satu tahun, dan siswa berpindah kelas, portofolio ini diberikan guru kepada wali kelas berikutnya. Untuk apa? Sebagai masukan bagi guru mengenai sikap, perkembangan, kemajuan, dan kemampuan yang diperoleh siswa. Dengan cara ini, si guru dapat merancang pembelajaran dengan lebih baik.
  11.            Pada akhir caturwulan, guru meringkas hasil penilaiannya. Untuk penilaian yang bersifat non tes, guru meringkasnya sebagai bahan laporan. Hasil evaluasi ini dipertimbangkan pula dan dikombinasikan dengan nilai hasil tes yang dituangkan ke dalam angka untuk pengisian rapor. 
PELAKSANAAN PENILAIAN HOLISTIK
Dlam menerapkan sesuatu yang baru, seperti penilaian holistik, di perlukan ketekunan, kedisiplinan, dan kesabaran. Namanya saja baru, pemahaman dan pengalaman kita pun masih baru. Anda masih ingat ketika ramai-ramainya penerapan pendekatan CBSA? Apa yang terjadi? Kegagalan, bukan? Mengapa itu bisa terjadi? Banyak faktor! Penyebab kegagalan CBSA bukan karna CBSA-nya yang buruk, tetapi manusia yang menggunakannya. Kita menerapkan CBSA tanpa memahami dulu dengan baik hakikat dan tujuan pendekatan tersebut. Kita tidak mengerti persis apa, mengapa, dan bagaimana. Akibatnya, kita hanya berkutat dengan “wadah atau cangkang”dan mengabaikan isinya. Kita seolah-olah telah menerapkan CBSA, padahal tidak.
Akhirnya, muncul berbagai keluhan. Komentar buruk tentang CBSA pun berhamburan: pendekatan CBSA  buang waktu, merepotkan, hanya melayani anak pandai dan kurang memperhatikan anak yang kurang pintar, mengganggu kesehatan siswa karna harus selalu duduk berkelompok dan melihat guru dengan memiringkan kepala, sisawa yang aktip sedangkan gurunya tidak, dan banyak lagi. Pendekatan CBSA pun di salahkan. Bahkan di beberapa tempat, CBSA  dlarang di gunakan untuk pembelajaran. Sangat mnyedihkan!
Oleh karna itu, penerapan sesuatu yang baru itu hendaknya bertahap. Mengapa? Karna ia tidak berdiri sendiri. Penerapan pendekatan holistic, misalnya, pasti berkaitan dengan dan akan mempengaruhi aspek-aspek lain dalam pembelajaran, seperti perencanaan, strategi pembelajaran, pengelolaan kelas,penilaian, serta sikap dan hubungan guru dengan murid.
Sebagai contoh, penilaian holisatik itu hanya dapat di lakukan dan berhasil dengan baik bila pembelajaran berpusat pada siswa (child-centres). Siswa adalah subjek dan inti pembelajaran, yang terlibat secara aktip di dalamnya. Implikasinya, guru dituntut memiliki sikap terbuka, demokratis, menghormati keberadaan siswa. Guru lebih  berperan pada motivator, fasilitator, dan administrator.
Tetapi sebagai perancang dan pemimpin pembelajaran, guru harus memahami dan menyiapkan dengan baik apa yang akan di ajarkan dan bagaimana mengajarkannya.
Pendekatan penilaian tersebut berpendapat bahwa belajar, mengajar, dan penilaian adalah rangkaian aktivitas yang sangat terkait erat, bahkan tidak dapat di pisahkan satu dari yang lainnya. Begitupula aspek2 pelajarannya. Di dalam bahasa Indonesia, misalnya, penilaian holistic memandang hubungan erat dan saling mempengaruhi di antara belajar, mengajar, dan evaluasi menyimak, berbicara, membaca, menulis, kebahasan, dan apresiasi. Dengan demikian maka penilaian harus di lakukan secara utuh, terus-menerus sepanjang pembelajaran; di tunjukan pada proses dan hasil; serta mencakup aspek fisik, emosi, social dan intelektual anak secara seimbang.
Bagaimana penilaian tersebut. Nah, materi ini sudah terjadi pada Kegiatan Belajar 1. Anda pun pasti telah mempelajari dan memahaminya dengan baik. Selanjutnya, pada Kegiatan Belajar 2 ini anda akan mengkaji persiapan dan pelaksanaan penilaian evaluasi holisik di dalam kelas, khususnya kelas awal.
Dengan demikian,setelah mepelajari Kegiatan Belajar 2 ini, anda di harapkan dapat:
1.      Mempersiapkan penerapan penilaian holistic;dan
2.      Melaksanakan penilaian tersebut dengan baik.

A.      PERSIAPAN PENERAPAN PENILAIAN HOLISTIK
     Sebelum menerapkan penilaian holistic di dalam maka prhatikanlah langkah-langkah persiapan berikut terlebih dahulu.
1.      Dengan baik apa, mengapa, dan bagaimana penilaian holistic (lihat materi Kegiatan Belajar 1).
2.      Menentukan faktor aspek pelajaran yang akan dinilai secara holistic.
Seperti yang telah di sampaikan di muka. Pemula hendaknya menerapkan Memahami penilaian ini secara bertahap. Anda

Untuk itu, anda harus menentukan terlebih dahulu aspek pelajaran yang akan di: apakah menymak, berbicara, membaca, atau menulis?
Penulis mengarahkan agar anda memulainya dengan menulis dan membaca. Mengapa? Selain sebagai salah satu aspek yag di tekankan di dalam kurikulum 1994, keduanya merupakan kterampilan berbahasa yang rlatif sangat kompleks. Dari aspek pelajaran akan di hasilkan sejumlah karya siswa yang sangat kaya untuk bahan penilain holistic. Nah, kalau isi sudah dapat anda lakukan dengan baik, anda dapat di tambahkan dengan menyimak, berbicara, dan menerpadukannya dengan mata pelajaran lainnya seperti matemaika.
Menurut pengakuan seorang guru SD di USA tahap pertama menerapkan penilaian holistic ini sangat menentukan. Kalau tahap ini sudah terkuasai dengan baik maka berikutnya tidak terlalu banyak  persoalan, menurutnya, ia membutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk benar-benar mantap dalam meneraapkan penilaian holistic terhadap menulis dan membaca sebelum mnambahnya dengan aspek pelajaran bahasa lain.
Kalau begitu, bagaimna penilaian aspek pelajaran bahasa yang lainnya, seperti menyimak dan berbicara? Untuk sementara, lakukanlah penilaiannya dulu dengan cara yang biasa anda kerjakan.
3.      Merenungkan dan memahami kebiasaan pembelajaran yang telah anda lakukan
Pahamilah bagaimana  anda bias mengajar. Kemudian,lihatlah celah penyesuaian yang dapat dan harus anda lakukan sehubung dengan penerapan penilaian holistic.penyesuaian itu mungkin berkaitan dengan sikap mengajar, pengaturan waktu, rencana pembelajaran, strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, atau cara penilaian dan pemanpaatan hasilnya.
4.      Memantapkan tujuan penilailaian holistic yang akan anda lakukan.
5.      Menyiapkan dan mengembangkan rencana pembelajaran dan penilaian.
Pada tahap ini, hal yang pertama anda lakukan adalah mempelajari dan memahami tujuan dan materi pembelajaran kelas anda selama satu tahun atau minimal satu caturwulan, terutama yang berkaitan dengan menulis dan membaca (karna aspek ini yang di pilih untuk di nilai secara holistik). Berikutnya, butlah rencana program tahunan,lalu pecah menjadi catruwulan, bulanan, dan mingguan. Untuk mempermudah anda sajikan rencana itu ke dalam table yang terbagi atas komponen tujuan, materi, serta strategi pembelajaran dan penilaiannya.
6.      Berdasarkan rencana yang tertuang pada table yang anda buat,tentukan apa yang anda buat, tentukan apa yang akan dinilai dan kapan melakukannya. Untuk menerapkan penilaian holistic ini , sebaiknya mulai dari awal catruwulan.
7.      Merancacang alat penilaian tes dan non-tes sesuai dengan tujuan dan aspek yang akan di nilai (proses dan hasil; perkembangan; kemajuaan; dan hasil belajar). Penyempurnaan alat penilaian dilakukan menjelang kegiatan pembelajaran.
8.      Menyiapkan perangkat pendukung kelas untuk penilaian holistic, yang mencakup hal-ini berikut ini:
a)      Map yang berisi kumpulan semua pekerjaan baca tulis siswa yang belum di pilih. Label map terserah anda. Anda dapat memahaminya, misalnya ”Kumpulan Karya Budi” atau mungkin anda punya nama yang lebih baik. Isinya dapat berupa tulisan nama siswa sendiri, surat, karangan (drapt kasar atau yang final), daptar bacaan siswa, komentar siswa mengenai suatu bacaan, gambar, hasil penilaian mengenai siswa  yang bersangkutan yang dilakukan oleh siswa ataupun guru terhadap kemajuan belajarnya, dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis siswa.
b)      Map yang berisi tulisan-tulisan terpilih dari map di atas, pemilihan tulisan yang dianggap siswa paling baik dan bermakna dilakukan oleh siswa dan di bantu oleh guru dan orang tuanya. Map kedua ini  dinami, seperti “protofolio budi”.
c)      Tempat penyimpanan map siswa. Anda dapat menggunakan meja,lemari cabinet, atau apapun, yang penting rapid an mudah di jangkau siswa.
d)     Dinding kelas tempat penempelan tulisan siswa yang secara perode di ganti.
e)      Meja dan kursi untuk wawancara atau konferensi guru dengan siswa. Letakkan di samping  atau di pojok, sehingga tidak mengganggu siswa yang lain.
f)       Dokumen guru yang berisi:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar